DMN. Com, -Ambon — Ketua Yayasan Ar Rahmah Ambon, Habib Rifqi Alhamid, S.Kom., M.Si., menyoroti sikap salah satu pengurus Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) Kota Ambon yang dinilainya tidak beretika dalam proses komunikasi terkait kegiatan “Ambon Bershalawat.”
Persoalan tersebut bermula ketika pihak LASQI Kota Ambon meminta Habib Rifqi memberikan masukan dan konsep untuk pelaksanaan kegiatan. Namun, setelah konsep disampaikan dan dilakukan sejumlah pertemuan, komunikasi disebut tiba-tiba terhenti tanpa ada kepastian hingga kegiatan tersebut selesai dilaksanakan.
Habib Rifqi mengatakan, kronologi awal terjadi pada 14 Agustus 2026, ketika seorang bernama Ari bersama Devi Bin Umar dari pihak LASQI menemui dirinya di Cafe Pelangi, Ambon, sekitar pukul 14.00 WIT.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pertemuan tersebut, Habib Rifqi menjelaskan secara rinci konsep acara yang diusulkannya, mulai dari pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Mahalil Qiyam, hadrah hingga Banjarriyah.
Konsep tersebut kemudian kembali dibahas dalam pertemuan kedua di Hotel Santika pada 16 Agustus 2026.
Namun, menurut Habib Rifqi, setelah pertemuan kedua tersebut, tidak ada lagi komunikasi dari pihak LASQI hingga 23 Agustus 2026.
Saat dirinya mencoba menghubungi pihak LASQI, respons yang diterima disebut hanya berupa pesan video tanpa adanya komunikasi secara langsung. Setelah itu, tidak ada lagi kabar maupun kepastian hingga kegiatan “Ambon Bershalawat” selesai dilaksanakan.
Padahal, kata Habib Rifqi, pihak LASQI yang terlebih dahulu menghubungi dirinya untuk meminta bantuan dan masukan terkait konsep kegiatan tersebut, bukan sebaliknya.
Dalam proses awal komunikasi itu, Usman Bugis dari KESRA disebut turut terlibat dan mengetahui komunikasi antara kedua pihak.
Persoalkan Etika, Bukan Soal Konsep atau Anggaran
Habib Rifqi menegaskan, dirinya tidak mempermasalahkan apabila konsep yang telah disampaikan pada akhirnya tidak digunakan dalam kegiatan tersebut. Ia juga menegaskan tidak pernah mempersoalkan persoalan anggaran atau uang.
Menurutnya, yang menjadi persoalan utama adalah etika dan adab dalam berkomunikasi.
Ia menilai, apabila konsep tersebut tidak digunakan atau terdapat kendala tertentu, pihak LASQI seharusnya memberikan kepastian kepada dirinya, apakah akan dilibatkan dalam kegiatan atau tidak.
“Kalau memang tidak dipakai, sampaikan saja. Ya atau tidak. Jangan sampai orang sudah diminta datang, diminta memberikan konsep, lalu hilang begitu saja tanpa kepastian,” ujarnya.
Habib Rifqi menambahkan, pada 17 Agustus 2026 dirinya bersama Ustadz Fatih Karim dari Jakarta bahkan pernah mengisi acara syukuran Proklamasi di kediaman Wakil Wali Kota Ambon tanpa meminta bayaran sepeser pun.
Karena itu, ia menegaskan persoalan tersebut sama sekali bukan berkaitan dengan uang atau kepentingan materi.
Ia juga menyoroti perbedaan pola komunikasi yang dilakukan pihak LASQI. Menurutnya, sejumlah pengisi acara seperti pemain gambus dapat dihubungi secara langsung untuk mengikuti kegiatan, sementara dirinya yang telah dimintai masukan dan konsep justru tidak mendapat kepastian.
“Apa karena kita bukan orang pemerintah, bukan orang kaya, bukan orang pejabat? Lantas kami ini ulama dan tokoh agama dipermainkan begitu?” tegas Habib Rifqi.
Menurutnya, LASQI sebagai lembaga yang bergerak di bidang seni qasidah dan dakwah melalui pujian kepada Nabi Muhammad SAW seharusnya memberikan contoh yang baik dalam menjaga etika, moral dan adab.
“Seharusnya menjadi teladan, jangan justru mengabaikan orang yang sudah dimintai bantuan dan masukan,” katanya.
Minta Klarifikasi dan Penyelesaian Kekeluargaan
Habib Rifqi mengatakan dirinya tidak menuntut hal lain selain adanya klarifikasi secara langsung dari pihak yang bersangkutan atau melalui Ketua LASQI Kota Ambon.
Jika memang terdapat kekeliruan dalam proses komunikasi tersebut, ia meminta agar hal itu diakui dan diselesaikan secara baik melalui permintaan maaf secara terbuka.
Ia juga meminta agar persoalan tersebut tidak melebar dan dikaitkan dengan Pemerintah Kota Ambon.
Habib Rifqi menegaskan, dirinya memiliki hubungan baik dengan Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena dan jajaran Pemerintah Kota Ambon.
“Saya tidak mempersoalkan anggaran, tetapi jangan melebar atau membias ke mana-mana,” ungkapnya.
Meski menyampaikan kritik keras terhadap sikap pengurus LASQI tersebut, Habib Rifqi mengaku masih membuka ruang untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Namun, apabila pihak yang bersangkutan tetap memilih diam, menurutnya masyarakat dapat menilai sendiri sikap dan etika yang ditunjukkan.
“Siapa yang ingin hidupnya selamat, hendaklah memiliki etika, moral dan adab. Ilmu boleh tinggi, tetapi tanpa etika, semuanya tidak bermakna,” pungkas Habib Rifqi. (AP)















Komentar